
Kamu bangun tiap pagi dengan perasaan yang sama — sesuatu yang menggantung. Bukan sedih yang jelas, bukan bahagia yang penuh. Hanya... bingung. Bingung harus mulai dari mana, bingung ini sudah benar atau belum, bingung kenapa orang lain kelihatan tahu arahnya sedangkan kamu masih merasa meraba-raba di tempat yang sama.
Dan kamu sudah terlalu lama menunggu ini berlalu sendiri.
Ada momen ketika kamu diam dan sadar—kamu tidak benar-benar tahu apa yang kamu mau. Bukan karena tidak punya impian, tapi karena terlalu lama hidup mengikuti ekspektasi orang lain sampai suaramu sendiri hilang. Di setiap tempat, kamu jadi versi berbeda: penurut, santai, profesional. Semuanya nyata, tapi tidak ada yang terasa benar-benar “kamu”.
Kamu tetap menjalani jalan yang mungkin bukan pilihanmu, karena takut mengecewakan atau berharap nanti akan terbiasa. Di tengah semua itu, ada lelah yang sulit dijelaskan—karena kamu sudah terlalu terbiasa terlihat baik-baik saja. Ini bukan soal lemah atau kurang bersyukur, tapi tanda bahwa ada sesuatu dalam dirimu yang belum kamu pahami.
Para psikolog baru punya nama untuk ini beberapa dekade lalu. Mereka menyebutnya Quarter Life Crisis.
Tapi Islam sudah mengenali kondisi ini jauh sebelum istilah itu ada. Al-Qur'an bicara tentang jiwa yang gelisah, yang kehilangan arah, yang mencari tapi tidak menemukan — dan bukan dengan cara yang menenangkan saja, tapi dengan cara yang menjelaskan.
Karena ketenangan yang sesungguhnya bukan datang dari merasa lebih baik. Tapi dari akhirnya mengerti.
Semua yang kamu coba selama ini baru menyentuh gejalanya—belum akarnya. Padahal, akar itu ada di tempat yang jarang disentuh.
Quarter Life Crisis dalam Pandangan Islam & Al-Qur’an
Bersama Kak Rizqie Dyah
Di sesi ini, kamu akan diajak memahami kondisi yang selama ini hanya kamu rasakan—bukan dengan motivasi sesaat, tapi lewat sudut pandang Islam yang jarang dibahas.
Setelah sesi ini, kamu akan punya:
Kondisi yang Selama Ini Paling Kamu
Hindari untuk Diakui — Mungkin Justru
yang Paling Perlu Kamu Pahami.
